CHILDREN ALLERGY ONLINE CLINIC

> 30 days ago
‹ chat status

Profile

Name:
CHILDREN ALLERGY ONLINE CLINIC
Location:
jakarta, ID
Birthday:
09/25/1964
Status:
Not Interested
Job / Career:
Health Care

Stats

Posts:
60
Post Reads:
162,970
Last Online:
> 30 days ago
View All »

My Friends

online now

Subscribe

Health & Fitness > Kolik,nyeri Perut & Alergi
 

Kolik,nyeri Perut & Alergi


HIGHLIGHTS :

”KOLIK, NYERI PERUT DAN ALERGI MAKANAN PADA ANAK”

Dr Widodo Judarwanto SpA

ALLERGY BEHAVIOUR CLINiC
PICKY EATERS CLINIC (Klinik kesulitan makan)
JL Rawasari Selatan 50, Cempaka Putih Jakarta Pusat
Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat
Rumah Sakit Bunda Jakarta, Jl Teuku cikditiro 28 Jakarta Pusat
telp : (021) 70081995 - 4264126 – 31922005 ext 151
email : wido25@hotmail.com , htpp://www.childrenfamily.com


Anak saya rewel sekali bila malam hari dan sulit tidur, demikian keluhan para ibu saat merawat anak usia di bawah 3 bulan, Oh, itu biasa bu! Memang bayi saat bayi sering rewel, nanti khan bisa mengatur waktu tidurnya sendiri pada umur tertentu. Demikian pendapat beberapa orang bila menanggapi kasus tersebut. Mungkin benar, hal itu adalah hal biasa dan akan hilang saat usia tertentu. Tetapi apakah permasalahan tersebut hanya sesederhana itu ?
Bayi yang rewel pada malam hari yang kadang disertai kolik dialami sekitar 10-30% anak. Rewel malam hari atau kolik pada bayi sering disebabkan karena keluhan nyeri perut pada bayi. Gangguan ini ditandai anak tampak sangat rewel dan menangis atau menjerit terus menerus. Sampai saat ini masih banyak timbul kontroversi dan masih belum jelas terungakap penyebabnya.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penderita yang sering rewel malam hari saat bayi atau timbul kolik saat di bawah usia 3 bulan akan beresiko mendapatkan keluhan sering nyeri perut saat usia 2-7 tahun. Penyakit alergi tampaknya berperanan paling utama sebagai penyebab dalam kasus tersebut. Banyak kasus tersebut setelah dilakukan eliminasi makanan penyebab alergi, keluhannya hilang atau berkurang. Alergi tampaknya dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita tanpa terkecuali, terutama saluran cerna. Gangguan organ tubuh seperti saluran cerna sering kurang perhatian sebagai target organ reaksi yang ditimbulkan dari alergi makanan. Selama ini yang dianggap sebagai target organ adalah kulit, asma dan hidung.
Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistim tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan. Fungsi organ tubuh yang sering terlibat dalam proses terjadinya alergi makanan adalah saluran cerna. Gejala gangguan saluran cerna yang berkaitan dengan alergi makanan adalah muntah, diare, konstipasi, kolik, nyeri perut, sariawan dan sebagainya.
Tampaknya penyakit alergi berperanan penting sebagai penyebab dalam kasus tersebut. Alergi makanan dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita tanpa terkecuali, terutama saluran cerna. Gangguan organ tubuh seperti saluran cerna sering kurang perhatian sebagai target organ reaksi yang ditimbulkan dari alergi makanan. Selama ini yang dianggap sebagai target organ adalah kulit, asma dan hidung. Beberapa penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa dengan melakukan eliminasi makanan penyebab alergi didapatkan gejala kolik, rewel malam hari atau nyeri perut berkurang atau hilang.

ALERGI MAKANAN, KOLIK DAN NYERI PERUT
Secara mekanik integritas mukosa usus dan peristaltik merupakan pelindung masuknya alergi ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan rusaknya bahan penyebab alergi (denaturasi allergen). Secara imunologik sIgA pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal allergen (penyebab alergi) masuk ke dalam tubuh. Pada usia anak saluran cerna masih imatur (belum matang). Sehingga sistim pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen masuk ke dalam tubuh. Gangguan saluran cerna yang berkaitan dengan alergi makanan tersebut sering diistilahkan sebagai gastroenteropati atopi.
Saluran cerna adalah target awal dan utama pada proses terjadinya alergi makanan. Karena penyebab utama adalah imaturitas (keitidak matangan) saluran cerna maka gangguan pencernaan yang disebabkan karena alergi paling sering ditemukan pada anak usia di bawah 2 tahun, yang paling sensitif di bawah 3 bulan. Dengan pertambahan usia secara bertahap imaturitas saluran cerna akan semakin membaik hingga pada usia 5 atau 7 tahun. Hal inilah yang menjelaskan kenapa alergi makanan akan berkurang dengan pertambahan usia terutama di atas 5 atau 7 tahun. Salah satu manifestasi klinis alergi yang berkaitan dengan gangguan saluran cerna adalah nyeri perut atau kolik pada bayi dan anak. Bila dikaitkan dengan imaturitas saluran cerna tersebut maka gejala nyeri perut pada anak juga akan membaik secara bertahap pada usia 2 hingga 7 tahun atau kolik akan hilang saat usia 3 bulan.
Gangguan kolik yang terjadi saat usia di bawah 3 bulan sampai lebih dari 3-5 kali perhari. Gejala kolik berangsur membaik saat di atas usia 3 bulan. Di atas 1-2 tahun keluhan nyeri perut masih ada meskipun tidak tiap hari, biasanya terjadi malam hari. Diusia ini ditandai anak sering rewel pada malam hari. Seringkali disertai tangisan yang sangat keras, menjerit seperti kesakitan Di usia 2-7 tahun keluhan nyeri perut biasanya sudah mulai dikeluhkan, karena anak sudah bisa mengungkapkan keluhan dengan kata. Keluhan sakit biasanya terjadi saat disuap atau saat minum susus. Kadang juga timbul saat bermain, keluhan tersebut hanya berlangsung sebentar, setelah itu hilang lagi seperti tidak lagi. Karena berlangsung sangat singkat sering dianggap pura-pura. Pada usia ini seringkali bila timbul nyeri perut posisi tidur tengkurap seperti nungging atau ”sujud” yang hanya timbul pada malam hari. Keluhan ini disertai mengganjal perut dengan bantal atau guling saat tidur.
KELUHAN NYERI PERUT MENINGKAT SAAT TIMBUL INFEKSI
Bila bayi flu, timbul gejala kolik atau rewel pada malam hari. Keluhan flu pada bayi sangat ringan, bahkan seperti tanpa gejala, Biasanya hanya timbul hangat atau napas grok-grok dan bersin meningkat. Juga biasanya didapatkan kontak langsung penderita sakit flu 1 hari sebelumnya
Penderita yang sebelumnya mempunyai riwayat kolik atau nyeri perut, akan mengalami nyeri perut yang sangat berat bila sedang mengalami demam atau infeksi apapun pada tubuhnya. Misalnya, saat infeksi tenggorokan disertai sakit perut, saat demam tinggi disertai nyeri perut.
Dalam keadaan nyeri perut yang sangat berat saat timbul infeksi ini sering dicemaskan orangtua, Keadaan ini bahkan sering membuat dokter yang merawat juga bingung, akhirnya banyak dicurigai gangguan organ tubuh lain. Seringkali dalam kasus seperti ini dapat terjadi overdiagnosis penyakit apendicitis akut (usus buntu) atau belum tentu penyakit usus buntu tetapi divonis atau dioperasi sebagai penderita usus buntu. Karena pengalaman seperti inilah maka harus diwaspadai. Seorang anak yang mempunyai riwayat sering nyeri perut bila divonis usus buntu sebaiknya melakukan second opinion atau minta pendapat dokter bedah lain segera sebelum melakukan operasi usus buntu.
Manifestasi klinis yang sering MENYERTAI penderita alergi KOLIK ATAU REWEL MALAM HARI pada bayi.
• GANGGUAN SALURAN CERNA : Sering muntah/gumoh, kembung,“cegukan”, sering buang angin, sering “ngeden /mulet”, sering REWEL / GELISAH/COLIK terutama malam hari), Sering buang air besar (> 3 kali perhari), tidak BAB tiap hari, BERAK DARAH. Hernia Umbilikalis (pusar menonjol), Scrotalis, inguinalis (benjolan di selangkangan, daerah buah zakar atau pusar atau “turun berok”) karena sering ngeden sehingga tekanan di dalam perut meningkat.
• Kulit sensitif, sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut.Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau.
• Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis karena sering ngeden.
• Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
• Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan
• Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
• Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
• Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu atau kedua sisi.
• Berat badan sulit naik setelah usia 4-6 bulan.
• Kepala, telapak tangan atau telapak kaki sering teraba sumer/hangat, keringat berlebihan.
• Gangguan hormonal : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
• Mudah kaget bila ada suara keras. Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar, kejang.
• PROBLEM MINUM ASI : bayi sering menangis (karena perut tidak nyaman) seperti haus sehingga minum berlebihan dan berat berlebihan. Sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang. Sering menggigit puting sehingga luka (agresif). Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi, karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.

GANGGUAN YANG SERING MENYERTAI PENDERITA KOLIK PADA BAYI
(ALERGI BISA MENGGANGGU OTAK ATAU BRAIN ALLERGY / CEREBRAL ALLERGY)

• GANGGUAN NEURO ANATOMIS : Mudah kaget bila ada suara yang mengganggu. Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar. Kaki sering dijulurkan lurus dan kaku. Breath Holding spell : bila menangis napas berhenti beberapa detik kadang disertai sikter bibir biru dan tangan kaku. Mata sering juling (strabismus). Kejang non spesifik tanpa disertai ganggguan EEG (EEG normal)
• GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN
Usia < 1 bulan sudah bisa miring atau membalikkan badan.
Usia < 6 bulan: mata/kepala bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak berlebihan, tidak bisa diselimuti (“dibedong”). Kepala sering digerakkan secara kaku ke belakang, sehingga posisi badan bayi “mlengkung” ke luar. Bila digendomg tidak senang dalam posisi tidur, tetapi lebih suka posisi berdiri.
Usia > 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala dan badan atas ke belakang, memukul dan membentur benturkan kepala. Kadang timbul kepala sering bergoyang atau mengeleng-gelengkan kepala. Sering kebentur kepala atau jatuh dari tempat tidur.
• GANGGUAN TIDUR (biasanya MALAM-PAGI) gelisah,bolak-balik ujung ke ujung; bila tidur posisi “nungging” atau tengkurap; berbicara, tertawa, berteriak dalam tidur; sulit tidur atau mata sering terbuka pada malam hari tetapi siang hari tidur terus; usia lebih 9 bulan malam sering terbangun atau tIba-tiba duduk dan tidur lagi,
• AGRESIF MENINGKAT, pada usia lebih 6 bulan sering memukul muka atau menarik rambut orang yang menggendong. Sering menggigit, menjilat tangan atau punggung orang yang menggendong. Sering menggigit putting susu ibu bagi bayi yang minum ASI, Setelah usia 4 bulan sering secara berlebihan memasukkan sesuatu ke mulut. Tampak anak sering memasukkan ke dua tangan atau kaki ke dalam mulut.
• GANGGUAN KONSENTRASI : cepat bosan thd sesuatu aktifitas bermain, bila diberi cerita bergambar sering tidak bisa lama memperhatikan.
• EMOSI MENINGKAT, sering menangis, berteriak dan bila minta minum susu sering terburu-buru tidak sabaran.
• GANGGUAN MOTORIK DAN KOORDINASI :
Pada POLA PERKEMBANGAN NORMAL adalah BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK, BERDIRI DAN BERJALAN sesuai usia. Pada gangguan keterlambatan motorik biasanya bolak balik pada usia lebih 5 bulan, usia 6 – 8 bulan tidak duduk dan merangkak, setelah usia 8 bulan langsung berdiri dan berjalan. GANGGUAN ORAL MOTOR : Bicara terburu-buru, cadel, gagap. Gangguan menelan-mengunyah, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur berserat seperti kangkung, sawi) , Terlambat makan padat atau nasi (normala makan nasi tanpa saring usia 9 bulan, normal makan nasi usia 1 tahun) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
• KETERLAMBATAN BICARA: Tidak mengeluarkan kata umur < 15 bulan, , kemampuan bicara atau ngoceh-ngoceh hilang dari yang sebelumnya bisa. Bila tidak ada gangguan kontak mata, gangguan pendengaran, dan gangguan intelektual biasanya usia lebih 2 tahun membaik.
• IMPULSIF : banyak tersenyum dan tertawa berlebihan, lebih dominan berteriak daripada mengoceh.
• Jangka panjang akan memperberat gangguan perilaku tertentu bila anak mengalami bakat genetik seperti ADHD (hiperaktif) dan AUTIS (hiperaktif, keterlambatan bicara, gangguan sosialisasi)

MANIFESTASI KLINIS YANG MENYERTAI PENDERITA ALERGI DAN GANGGUAN KOLIK ATAU NYERI PERUT

• Sering batuk, batuk lama (>2 minggu), pilek, (TERUTAMA MALAM DAN PAGI HARI siang hari hilang) sinusitis, bersin, mimisan. tonsilitis (amandel), sesak, suara serak.
• Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
• Sering lebam kebiruan pada kaki/tangan seperti bekas terbentur.
• Kulit timbul bisul, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Sering menggosok mata, hidung atau telinga. Kotoran telinga berlebihan.
• Nyeri otot & tulang berulang malam hari. Sering kencing, Bed wetting (Ngompol)
• Sering muntah , nyeri perut, SULIT MAKAN disertai berat badan kurang (biasanya setelah umur 4-6 bulan).
• Sering sariawan, lidah sering putih/kotor nyeri gusi/gigi, mulut berbau, air liur berlebihan, bibir kering.
• Sering Buang air besar (> 2 kali/hari), tidak buang air besar tiap hari, sulit buang air besar (obstipasi/konstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana.
• Tidur larut malam/sering terbangun.
• Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat.Sering berkeringat (berlebihan)
• Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata, mata sering berkedip, memakai kaca mata sejak usia sangat muda (usia 6-12 tahun).
• Gangguan hormonal : tumbuh rambut berlebihadi kaki/tangan, keputihan.
• Sering sakit kepala, migrain.

PENDERITA ALERGI DISERTAI GANGGUAN NYERI PERUT SERING DISERTAI GANGGUAN OTAK/PERILAKU (“BRAIN ALLERGY” / CEREBRAL ALLERGY)
• GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN
Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}, sering memanjat. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
• GANGGUAN TIDUR MALAM : gelisah/bolak-balik ujung ke ujung, bila tidur posisi “nungging”, berbicara,tertawa,berteriak saat tidur, sulit tidur, malam sering terbangun/duduk,mimpi buruk, “beradu gigi” atau bruxism.
• AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
• GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
• EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala
• GANGGUAN SENSORIS & KOORDINASI MOTORIK:
Bolak-balik, duduk, merangkak tidak sesuai usia. Terlambat berjalan, jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, jalan jinjit, duduk leter ”W”.
• GANGGUAN ORAL MOTOR : KETERLAMBATAN BICARA Tidak mengeluarkan kata umur < 15 bulan, hanya 4-5 kata umur 20 bulan, kemampuan bicara hilang dari yang sebelumnya bisa, biasanya > 2 tahun membaik. Gangguan menelan-mengunyah, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
• IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
• Memperberat gejala AUTIS dan ADHD

SERING DIANGGAP BIASA
Tanda dan gejala yang dikaitkan dengan alergi pada bayi dan anak tersebut, seringkali memang dialami oleh banyak anak (sekitar 30% lebih). Karena banyaknya kasus tersebut maka gejala tersebut sering dianggap biasa atau wajar, baik oleh kalangan masyarakat dan bahkan oleh sebagian kalangan klinisi atau dokter. Bila orangtua hanya mempunyai satu anak mungkin tidak menyadari, tetapi bila mempunyai anak 2 atau lebih maka akan dapat membedakan sebenarnya tanda dan gejala yang dianggap biasa tersebut sebenarnya tidak terjadi pada sebagian anak lainnya. Hanya saja ketika hal tersebut dianggap biasa karena selama ini tidak ada yang bisa menjelaskan kenapa hal itu terjadi. Demikian pula terjadi kontroversi di kalangan medis, semua gejala tersebut saat dikonsultasikan ke dokter sering dianggap biasa, Mungkin secara tehnis hal ini sulit dijelaskan ke pasien karena selama ini gangguan-gangguan tersebut secara medis penyebabnya belum terungkap jelas. Gejala tersebut akan berkurang seiring dengan usia. Bila dikaitkan dengan manifestasi alergi, hal ini memang berkaitan dengan bertambahnya usia imaturitas atau ketidakmatangan saluran cerna akan semakin membaik sehingga gangguan-gangguan tersebut akan semakin berkurang. Bila dilakukan intervensi eliminasi makanan, ternyata gangguan-gangguan tersebut dapat berkurang atau hilang.
Tetapi ternyata sebagian besar yang diaggap biasa tersebut mempunyai aspek yang sangat luas. Bila tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan banyak komplikasi seperti anak sering sakit, gangguan perilaku dan gangguan lain yang cukup mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak gangguan dapat disebabkan karena alergi makanan. Penulis juga banyak mengadakan penelitian dan pengamatan terhadap tanda dan gejala tersebut. Ternyata setelah dilakukan eliminasi makanan tertentu maka gejala tersebut dapat hilang atau berkurang. Atau, bila gejala tersebut timbul selalu terjadi menifestasi alergi lainnya. Misalnya, bila terjadi kolik seringkali disertai gangguan kulit, hidung buntu, napas grok-grok dan gangguan saluran cerna lainnya. Bila dilakukan anamnesa dengan cermat terjadi pola perubahan makanan baik diet ibu saat pemberian ASI atau makanan yang dikonsumsi langsung oleg bayi.
Demikian juga dengan gangguan bentol merah seperti digigit nyamuk atau serangga, biasanya disertai gangguan tidur malam, gangguan saluarn cerna ringan, hidung buntu malam, perilaku emosi dan agresif meningkat dan sering ditemukan pola diet makanan alergi yang dikonsumsi.
Sehingga orangtua harus bijak dalam menyikapinya. Memang tampaknya alergi makanan tidak berbahaya dan tidak terlalu mengkawatirkan. Tetapi bila dicermati lebih jauh jangka panjang yang bisa terjadi maka hal yang dianggap biasa tersebut SANGAT MENGGANGGU dan harus lebih diwaspadai.

• PERSEPSI BERBEDA DALAM MASYARAKAT
Gejala dan tanda alergi pada anak yang sering terjadi sering disalah persepsikan penyebabnya oleh masyarakat. Pendapat tersebut turun temurun terjadi didapatkan dari orang tua atau kakek nenek. Dalam jangka panjang gangguan tersebut ternyata dapat menjadi alat prediksi ke depan.
Bayi yang sering rewel malam pada usia yang lebih besar beresiko saluran cerna sensitif seperti sulit makan, nyeri perut berulang. Bayi yang bernapas grok-grok pada usia yang lebih besar beresiko sering batuk, bila batuk lebih berat (butuh inhalasi atau ”diuap”), kalau batuk lebih lama atau bila orang tua terdapat riwayat asma anak akan beresiko asma. Bayi yang sering hidung buntu atau belekan pada usia yang lebih besar beresiko mudah pilek, bila pilek sering lama, mimisan dan beresiko sinusitis. Bayi yang sulit BAB pada usia yang lebih besar beresiko juga mengalami sulit BAB, hemoroid (ambein). Hal ini juga dialami salah satu orangtuanya terutama yang mempunyai wajah yang sama. Karena alergi diturunkan oleh salah satu orang tuannya
Persepsi berbeda dalam masyarakat dalam menyikapi tanda dan gejala alergi:
1. Dermatitis (merah di pipi) sering dianggap karena terkena (“terciprat”) air susu ibu. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu seringkali timbul jerawat di wajah atau di punggung atau dada atas..
2. Perioral dermatitis (bintik merah di sekitar mulut) sering dianggap sehabis makan lupa membersihkan sisa makanan di sekitar mulut. Padahal sisa makanan tersebut tiap hari pasti ada tetapi keluhan ini hilang timbul. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu timbul semacam bintik kecil atau jerawat disekitar mulut.
3. Hipersekresi bronkus (napas bunyi grok-grok) sering dianggap karena dokter atau bidan kurang bersih menyedot atau membersihkan cairan ketuban di mulut bayi saat lahir.
4. Diapers Dermatitis (merah di daerah popok) sering dianggap karena pemakaian popok (diapers) padahal setiap hari memakai diapers tetapi hanya saat tertentu tiombul gejala. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering batuk kecil (berdehem) karena dahak berlebihan di tenggorokan.
5. Sering muntah sering dianggap lambungnya sempit atau kecil, atau sering dianggap stress. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering timbul mual, banyak gas di perut, sering sendawa gelegekan atau gejala maag.
6. Sering nyeri perut sering dianggap pura-pura atau alasan menolak makanan hal ini terjadi karena keluhan tersebut sangat ringan dan timbul hanya sebentar. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering perut rasa tidak enak atau gejala maag hal ini sering dianggap masuk angin.
7. Sering muntah sering dianggap lambungnya sempit atau kecil, atau sering dianggap stress. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering timbul mual, banyak gas di perut, sering sendawa gelegekan atau gejala maag.
8. Bintil merah di kulit yang berubah menjadi kehitaman atau dermatitis di kulit sering dianggap karena digigit nyamuk atau darah manis, padahal semua anggota keluarga di dalam rumah yang sama tidak mengalaminya. Atau, sering dianggap karena debu atau air kran yang kurang bersih atau karena udara panas atau keringat.
9. Tanda lebam kebiruan di tulang kering kaki atau kadang di daerah salah satu pipi sering dianggap karena terbentur atau terjatuh saat berlari atau naik sepeda. Memang kebetulan bahwa anak alergi biasanya anaknya sangat aktif dan tidak bisa diam. Hal ini biasanya juga dialami oleh salah satu orang tua, tetapi pada orangtua biasanya lokasinya di paha atau lengan atas sering diistilahkan dicubit setan.
10. Mata atau telinga gatal, sering digosok-gosok sering dianggap karena mengantuk.
11. Tanda putih (seperti panu) di pipi, dada atau pungggung sering dianggap karena berenang, padahal banyak anak yang tidak pernah berenang juga mengalaminya.
12. Sering sariawan atau luka di mulut sering dianggap karena panas dalam atau kurang vitamin C padahal anak setiap hari makan buah. Sariawan ini juga biasanya sering dialami salah satu orang tua.
13. Sulit Buang air besar atau tidak buang air besar tiap hari sering dianggap karena karena kurang buah atau sayur padahal anak setiap hari makan buah dan sayur. Gangguan ini juga biasanya sering dialami salah satu orang tua.
14. Sering kaget, tangan, kaki atau bibir sering bergetar bila bergerak atau suara keras sering dianggap karena kedinginan, padahal saat panas siang hari atau dijemur matahari gangguan ini juga timbul. Mudah kaget saat tidur ini juga biasanya sering dialami salah satu orang tua.



KOMPLIKASI
• Sering mengalami infeksi saluran napas berulang. Bila batuk-pilek (infeksi) sering diberikan inhalasi oleh dokter, padahal bayi lain yang tidak mengalami bakat alergi tidak pernah mendapatkan terapi inhalasi.
• Gangguan organ tubuh (paru,ginjal, otak,mata, kulit, saluran kencing, otot dll)
• Efek samping dari minum obat yang sering dan berkepanjangan
• KADANG GEJALA KLINIS ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC , SEHINGGA SERING DIOBATI ANTIBIOTIKA JANGKA PANJANG (PADAHAL DIAGNOSIS TBC BELUM TENTU BENAR)
• GIZI GANDA (berat badan kurang/kurang gizi atau Berat badan lebih) & KESULITAN MAKAN (berat badan sulit naik)
• INFEKSI JAMUR (HIPERSENSITIF CANDIDIASIS) di lidah, selangkangan, di leher, perut atau dada atau saluran cerna.
• Gangguan perkembangan (gangguan belajar, gangguan konsentrasi, agresif, keterlambatan bicara, perilaku/ hiperaktif/ autisme dll), gangguan pertumbuhan.


PENTING HARUS DIPAHAMI
• WASPADAI BILA ORANG TUA MENDERITA ALERGI, SALURAN CERNA YANG SENSITIF, SAKIT MAG, SERING SAKIT KEPALA ATAU MIGRAIN MAKA ANAK BERESIKO ALERGI DAN GANGGUAN CERNA SEPERTI KOLIK ATAU NYERI PERUT. TERUTAMA MENURUN PADA ANAK DAN ORANGTUA YANG WAJAH DAN FISIKNYA SAMA ATAU GOLONGAN DARAHNYA SAMA.
• ALERGI DAN GANGGUAN KOLIK ATAU NYERI PERUT DAPAT DICEGAH DAN DIMINIMALKAN SEJAK DINI
• PEMBERIAN OBAT JANGKA PANJANG OBAT UNTUK SALURAN CERNA BAHKAN PEMBERIAN OBAT PENENANG ADALAH BUKTI KEGAGALAN DALAM MENDETEKSI PENYEBAB ALERGI MAKANAN DAN GANGGUAN KOLIK
• DISEKITAR KITA BANYAK TIMBUL KONTROVERSI TENTANG ALERGI MAKANAN BAIK OLEH MASYARAKAT ATAU DIANTARA KLINISI SEHINGGA KADANG MEMBINGUNGKAN. SETELAH MENGALAMI SENDIRI TERNYATA BAHWA ALERGI MAKANAN SANGAT MENGGANGGU ANAK MAKA KITA HARUS LEBIH PERCAYA PADA FAKTA YANG TERJADI TERSEBUT
• MESKIPUN ALERGI TIDAK BISA HILANG SAMA SEKALI , TETAPI ALERGI MAKANAN DAN GANGGUAN KOLIK ATAU NYERI PERUT AKAN BERKURANG SAAT USIA TERTENTU SECARA BERTAHAP KOLIK HILANG DI ATAS USIA 3 BULAN SEDANGKAN NYERI PERUT BERKURANG DI ATAS USIA 2 – 7 TAHUN SECARA BERTAHAP.
• MENUNDA MAKANAN PENYEBAB ALERGI TIDAK MEMPENGARUHI STATUS GIZI ANAK ASALKAN MENGETAHUI JENIS MAKANAN PENGGANTINYA
• UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI MAKANAN DAN GANGGUAN MUNTAH BUKAN DENGAN TES ALERGI (TES KULIT ATAU TES DARAH) TETAPI DENGAN menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Center Rumah Sakit Bunda Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”.
• KOLIK LEBIH SERING TERJADI PADA BAYI YANG MINUM ASI. SEHINGGA INTERVENSIN DIET IBU SAAT PEMBERIAN ASI DAPAT MEMINIMALKAN GANGGUAN INI. SUSU FORMULA BISA SEBAGAI PENYEBAB TERTAPI BIASANYA HANYA KELUHAN REWEL MALAM HARI BUKAN KOLIK.
• SEBAIKNYA JANGAN MENGHINDARI DAN MEMBOLEHKAN MAKANAN HANYA BERDASARKAN TES KULIT DAN TES DARAH
• HINDARI MINUM OBAT JANGKA PANJANG & KOMPLIKASI YANG TERJADI
• SERING DIANGGAP BIASA KARENA SEBAGIAN BESAR ANAK BANYAK YANG MENGALAMI KELUHAN ITU. TETAPI BILA TIDAK DIATASI SEJAK DINI DALAM JANGKA PANJANG SAAT USIA LEBIH BESAR GANGGUAN INI BERESIKO MENIMBULKAN BERBAGAI GANGGUAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN MESKIPUN HANYA RINGAN.


DAFTAR PUSTAKA
1. Sampson HA, Anderson JA. Summary and recommendations: classification of gastrointestinal manifestations due to immunologic reactions to foods in infants and young children. J Pediatr Gastroenterol Nutr.2000; 30 :S87 –S94
2. Sampson HA, Sicherer SH, Birnbaum AH. AGA technical review on the evaluation of food allergy in gastrointestinal disorders. Gastroenterology.2001; 120 :1026 –1040.
3. Machida H, Smith A, Gall D, Trevenen C, Scott RB. Allergic colitis in infancy: clinical and pathologic aspects. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1994; 19 :22 –26
4. Odze RD, Bines J, Leichtner AM, Goldman H, Antonioli DA. Allergic proctocolitis in infants: a prospective clinicopathologic biopsy study. Hum Pathol.1993; 24 :668 –674
5. Wilson NW, Self TW, Hamburger RN. Severe cow’s milk induced colitis in an exclusively breast-fed neonate. Case report and clinical review of cow’s milk allergy. Clin Pediatr (Phila).1990; 29 :77 –80
6. Vanderhoof JA, Murray ND, Kaufman SS, et al. Intolerance to protein hydrolysate infant formulas: an underrecognized cause of gastrointestinal symptoms in infants. J Pediatr.1997; 131 :741 –744
7. Winter HS, Antonioli DA, Fukagawa N, Marcial M, Goldman H. Allergy-related proctocolitis in infants: diagnostic usefulness of rectal biopsy. Mod Pathol.1990; 3 :5 –10
8. Wyllie R. Cow’s milk protein allergy and hypoallergenic formulas. Clin Pediatr (Phila).1996; 35 :497 –500
9. Iyngkaran N, Yadav M, Boey C, Lam K. Severity and extent of upper small bowel mucosal damage in cow’s milk protein-sensitive enteropathy. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1988; 8 :667 –674
10. Walker-Smith JA. Cow milk-sensitive enteropathy: predisposing factors and treatment. J Pediatr.1992; 121 :S111 –S115
11. Iyngkaran N, Robinson MJ, Prathap K, Sumithran E, Yadav M. Cows’ milk protein-sensitive enteropathy. Combined clinical and histological criteria for diagnosis. Arch Dis Child.1978; 53 :20 –26
12. Yssing M, Jensen H, Jarnum S. Dietary treatment of protein-losing enteropathy. Acta Paediatr Scand.1967; 56 :173 –181
13. Hauer AC, Breese EJ, Walker-Smith JA, MacDonald TT. The frequency of cells secreting interferon-gamma and interleukin-4,–5, and -10 in the blood and duodenal mucosa of children with cow’s milk hypersensitivity. Pediatr Res.1997; 42 :629 –638
14. Kokkonen J, Haapalahti M, Laurila K, Karttunen TJ, Maki M. Cow’s milk protein-sensitive enteropathy at school age. J Pediatr.2001; 139 :797 –803
15. Powell GK. Milk- and soy-induced enterocolitis of infancy. J Pediatr.1978; 93 :553 –560
16. Powell G. Food protein-induced enterocolitis of infancy: differential diagnosis and management. Compr Ther.1986; 12 :28 –37
17. Sicherer SH, Eigenmann PA, Sampson HA. Clinical features of food protein-induced enterocolitis syndrome. J Pediatr.1998; 133 :214 –219
18. Vandenplas Y, Edelman R, Sacre L. Chicken-induced anaphylactoid reaction and colitis. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1994; 19 :240 –241
19. Nowak-Wegrzyn A, Sampson HA, Wood RA, Sicherer SH. Food protein-induced enterocolitis syndrome caused by solid food proteins. Pediatrics.2003; 111 :829 –835
20. Murray K, Christie D. Dietary protein intolerance in infants with transient methemoglobinemia and diarrhea. J Pediatr.1993; 122 :90 –92
21. Gryboski J. Gastrointestinal milk allergy in infancy. Pediatrics.1967; 40 :354 –362
22. Lake AM. Food protein-induced colitis and gastroenteropathy in infants and children. In: Metcalfe DD, Sampson HA, Simon RA, eds. Food Allergy: Adverse Reactions to Foods and Food Additives. Boston, MA: Blackwell Scientific Publications; 1997:277–286
23. Halpin TC, Byrne WJ, Ament ME. Colitis, persistent diarrhea, and soy protein intolerance. J Pediatr.1977; 91 :404 –407
24. Osterlund P, Jarvinen KM, Laine S, Suomalainen H. Defective tumor necrosis factor-alpha production in infants with cow’s milk allergy. Pediatr Allergy Immunol.1999; 10 :186 –190
25. Staiano A, Troncone R, Simeone D, et al. Differentiation of cows’ milk intolerance and gastro-oesophageal reflux. Arch Dis Child.1995; 73 :439 –442
26. Cavataio F, Iacono G, Montalto G, et al. Gastroesophageal reflux associated with cow’s milk allergy in infants: which diagnostic examinations are useful? Am J Gastroenterol.1996; 91 :1215 –1220
27. Cavataio F, Iacono G, Montalto G, Soresi M, Tumminello M, Carroccio A. Clinical and pH-metric characteristics of gastro-oesophageal reflux secondary to cows’ milk protein allergy. Arch Dis Child.1996; 75 :51 –56
28. Iacono G, Carroccio A, Cavataio F, et al. Gastroesophageal reflux and cow’s milk allergy in infants: a prospective study. J Allergy Clin Immunol.1996; 97 :822 –827
29. Ravelli AM, Tobanelli P, Volpi S, Ugazio AG. Vomiting and gastric motility in infants with cow’s milk allergy. J Pediatr Gastroenterol Nutr.2001; 32 :59 –64
30. Milocco C, Torre G, Ventura A. Gastro-oesophageal reflux and cows’ milk protein allergy. Arch Dis Child.1997; 77 :183 –184
31. Sampson HA, McCaskill CC. Food hypersensitivity and atopic dermatitis: evaluation of 113 patients. J Pediatr.1985; 107 :669 –675
32. Burks AW, James JM, Hiegel A, et al. Atopic dermatitis and food hypersensitivity reactions. J Pediatr.1998; 132 :132 –136
33. D’Netto MA, Herson VC, Hussain N, et al. Allergic gastroenteropathy in preterm infants. J Pediatr.2000; 137 :480 –486
34. Talley NJ, Shorter RG, Phillips SF, Zinsmeister AR. Eosinophilic gastroenteritis: a clinicopathological study of patients with disease of the mucosa, muscle layer, and subserosal tissues. Gut.1990; 31 :54 –58
35. Caldwell JH, Mekhjian HS, Hurtubise PE, Beman FM. Eosinophilic gastroenteritis with obstruction. Immunological studies of seven patients. Gastroenterology.1978; 74 :825 –828
36. Dobbins JW, Sheahan DG, Behar J. Eosinophilic gastroenteritis with esophageal involvement. Gastroenterology.1977; 72 :1312 –1316
37. Orenstein SR, Shalaby TM, Di Lorenzo C, Putnam PE, Sigurdsson L, Kocoshis SA. The spectrum of pediatric eosinophilic esophagitis beyond infancy: a clinical series of 30 children. Am J Gastroenterol.2000; 95 :1422 –1430
38. Vitellas KM, Bennett WF, Bova JG, Johnston JC, Caldwell JH, Mayle JE. Idiopathic eosinophilic esophagitis. Radiology.1993; 186 :789 –793
39. Martino F, Bruno G, Aprigliano D, et al. Effectiveness of a home-made meat based formula (the Rezza-Cardi diet) as a diagnostic tool in children with food-induced atopic dermatitis. Pediatr Allergy Immunol.1998; 9 :192 –196
40. Ruchelli E, Wenner W, Voytek T, Brown K, Liacouras C. Severity of esophageal eosinophilia predicts response to conventional gastroesophageal reflux therapy. Pediatr Dev Pathol.1999; 2 :15 –18
41. Lee RG. Marked eosinophilia in esophageal mucosal biopsies. Am J Surg Pathol.1985; 9 :475 –479
42. Kelly KJ, Lazenby AJ, Rowe PC, Yardley JH, Perman JA, Sampson HA. Eosinophilic esophagitis attributed to gastroesophageal reflux: improvement with an amino-acid based formula. Gastroenterology.1995; 109 :1503 –1512
43. Spergel JM, Beausoleil JL, Mascarenhas M, Liacouras CA. The use of skin prick tests and patch tests to identify causative foods in eosinophilic esophagitis. J Allergy Clin Immunol.2002; 109 :363 –368
44. Faubion WAJ, Perrault J, Burgart LJ, Zein NN, Clawson M, Freese DK. Treatment of eosinophilic esophagitis with inhaled corticosteroids. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1998; 27 :90 –93
45. Shirai T, Hashimoto D, Suzuki K, et al. Successful treatment of eosinophilic gastroenteritis with suplatast tosilate. J Allergy Clin Immunol.2001; 107 :924 –925
46. Neustrom MR, Friesen C. Treatment of eosinophilic gastroenteritis with montelukast. J Allergy Clin Immunol.1999; 104 :506
47. Sicherer SH, Noone SA, Koerner CB, Christie L, Burks AW, Sampson HA. Hypoallergenicity and efficacy of an amino acid-based formula in children with cow’s milk and multiple food hypersensitivities. J Pediatr.2001; 138 :688 –693
48. Ortolani C, Ispano M, Pastorello E, Bigi A, Ansaloni R. The oral allergy syndrome. Ann Allergy.1988; 61 :47 –52
49. Ortolani C, Pastorello EA, Farioli L, et al. IgE-mediated allergy from vegetable allergens. Ann Allergy.1993; 71 :470 –476
50. Farrell RJ, Kelly CP. Celiac sprue. N Engl J Med.2002; 346 :180 –188
51. Ferguson A. Mechanisms in adverse reactions to food. The gastrointestinal tract. Allergy.1995; 50 :32 –38
52. Vanderhoof JA, Perry D, Hanner TL, Young RJ. Allergic constipation: association with infantile milk allergy. Clin Pediatr (Phila).2001; 40 :399 –402
53. Iacono G, Carroccio A, Cavataio F, Montalto G, Cantarero MD, Notarbartolo A. Chronic constipation as a symptom of cow milk allergy. J Pediatr.1995; 126 :34 –39
54. Terr AI, Salvaggio JE. Controversial concepts in allergy and clinical immunology. In: Bierman CW, Pearlman DS, Shapiro GG, Busse WW, eds. Allergy, Asthma, and Immunology From Infancy to Adulthood. Philadelphia, PA: WB Saunders; 1996:749–760
55. Zeiger RS, Sampson HA, Bock SA, et al. Soy allergy in infants and children with IgE-associated cow’s milk allergy. J Pediatr.1999; 134 :614 –622
56. Bellioni-Businco B, Paganelli R, Lucenti P, Giampietro PG, Perborn H, Businco L. Allergenicity of goat’s milk in children with cow’s milk allergy. J Allergy Clin Immunol.1999; 103 :1191 –1194
57. Kelso JM, Sampson HA. Food protein-induced enterocolitis to casein hydrolysate formulas. J Allergy Clin Immunol.1993; 92 :909 –910
58. Frisner H, Rosendal A, Barkholt V. Identification of immunogenic maize proteins in a casein hydrolysate formula. Pediatr Allergy Immunol.2000; 11 :106 –110
59. Isolauri E, Sutas Y, Makinen KS, Oja SS, Isosomppi R, Turjanmaa K. Efficacy and safety of hydrolyzed cow milk and amino acid-derived formulas in infants with cow milk allergy. J Pediatr.1995; 127 :550 –557
60. Ventura A, Ciana G, Vinci A, Davanzo R, Giannotta A, Perini R. [Hypertrophic stenosis of the pylorus. Correlations with allergy to milk proteins and atopy]
Pediatr Med Chir. 1987 Nov-Dec;9(6):679-83. Italian.

posted on Jan 25, 2008 10:21 AM ()


60 articles found   [ Previous Article ]  [ Next Article ]  [ First ]  [ Last ]